Di sebuah perusahaan besar, ada satu Kepala Bagian yang cukup terkenal yaitu Pak Doni, karirnya moncer, promosi bukan cuma sekali, semangatnya selalu tampak menyala. Gaya kerjanya mencolok, rapi, vokal, gesit dan kalau ada momen penting dia selalu berdiri paling depan. Ada karyawan yang kagum, ada juga yang nyinyir menyebutnya suka "cari muka.
Sampai suatu hari datang momen besar: timnya harus presentasi kegiatan perbaikan kualitas di depan jajaran manajemen tingkat atas - Kepala Pabrik hingga Direktur Utama. Di acara seperti ini Pak Doni tuh paling semangat biasanya, siapin template presentasi, minta launch file, tak jarang dia sendiri yang tampil dengan suara lantangnya yang khas. Tapi kali ini beliau nggak muncul. Serius. Nggak nongol sama sekali sepanjang acara.
Timnya tetap menjalami presentasi. Kegiatan yang dilakukan olehnya sebenarnya ok, tapi penyampainan mereka terlalu sederhana, terkesan terburu-buru dan kurang greget. Apalagi jika dibandingkan tim lain, presentasi tim Pak Doni layaknya template lama yang diganti isinya saja. Jadinya, beberapa karyawan yang menonton kegiatan itu kecewa. Bukan karena ide atau kerja timnya jelek, tapi eksekusinya kurang.
Besoknya, Pak Doni masuk kerja seperti biasa. nggak ada kabar sakit, cuma saat masuk hari ini dia tampak sedikit pucat, menggunakan masker dan matanya sayu.
Rekannya, Pak Roki, nanya santai
"Lagi sakit ya, Pak Doni?"
Jawabnya, "Nggak, cuma lagi kurang enak badan saja. Kalau sakit, saya nggak akan masuk kerja lah"
"oh, jadi kemarin itu sakit?"
"Ah,, enggak juga,, cuma pengen istirahat saja"
Pak Roki cuma ngangguk, "ooh... gitu"
Enggak sakit ? cuma pengen istirahat saja? Masa iya ? Di moment sepenting itu ? Biasanya dia stand by banget tiap ada kegiatan seperti itu, kali ini malah ngilang pas timnya presentasi.
Apa karena dia tahu timnya belum siap, jadi dia ogah datang atau tampil hari itu?
Apa dia malu melihat anak buahnya nggak sesuai ekspektasi orang terhadap image dia selama ini?
Atau dia ingin memberikan anak buahnya pengalaman tampil agar lebih berkembang?
Atau jangan-jangan, Pak Doni selama ini terbang sendiri, sementara anak buahnya dibiarkan merangkak.
Orang-orang kantor mulai membahas itu. Bukan dengan ada benci, tapi lebih ke heran. Karena kejadian ini seperti membuka sisi lain dari sang bintang. Mungkin selama ini dia terlalu bersinar sampai lupa ngajarin timnya untuk nyalain lampu sendiri.
atau mungkin dia sadar... ada saat tampil, ada saatnya mundur. Tapi kalau benar begitu, kenapa mundurnya justru di momen paling penting.
Salam,
Tomo.U

Komentar
Posting Komentar