Di banyak tempat kerja, terutama yang penuh risiko fisik, ada satu kalimat yang sering terdengar:
"Yaa... Namanya juga kerja ya begini, pasti ada
risikonya!”
Kalimat ini terdengar sederhana, tapi bisa sangat berbahaya.
Ia sering dijadikan pembenaran untuk menerima risiko kerja tanpa perlindungan,
tanpa protes, bahkan tanpa rasa takut. Seolah-olah luka, kelelahan ekstrem,
atau bahkan kehilangan anggota tubuh adalah bagian dari “konsekuensi” yang
harus diterima.
🚫 Normalisasi Risiko
Bukan Solusi
Risiko kerja memang nyata. Tapi bukan berarti kita harus
pasrah.
Loyalitas dan dedikasi kerja tidak boleh menjadi alasan
untuk mengorbankan diri sendiri.
Tidak ada pekerjaan yang sepadan dengan kehilangan kesehatan
atau anggota badan.
🔷 Ubah Pola Pikir: Dari
Pasrah ke Peduli
Loyalitas bukan berarti diam saat prosedur keselamatan
diabaikan.
Dedikasi bukan berarti memaksakan diri saat tubuh sudah
lelah.
Profesionalisme bukan berarti menormalisasi bahaya.
Kita bisa tetap bekerja keras, tetap bertanggung jawab,
tanpa harus mengorbankan tubuh dan jiwa.
🔷 Bekerja Aman Adalah Hak
Gunakan APD dengan benar, bukan sekadar formalitas.
Jangan ragu menolak tugas yang membahayakan tanpa
perlindungan.
Edukasi rekan kerja tentang pentingnya keselamatan.
Dorong perusahaan untuk membangun budaya kerja yang sehat
dan aman.
🟣 Penutup
Di masa tua nanti, kita ingin bisa bermain dengan cucu,
berjalan tanpa rasa sakit, dan menikmati hidup.
Jangan biarkan kalimat "memang kerjaannya begini"
menjadi alasan untuk menyesal di kemudian hari.
Bekerja dengan aman adalah bentuk cinta pada diri sendiri. Dan itu bukan egois—itu bijak.
Terima kasih sudah mampir.
Salam,
Tomo.U

Komentar
Posting Komentar