Ada fase dalam hidup dimana kita dihadapkan pada pilihan yang tidak sepenuhnya kita sukai.
Bukan karena pilihannya buruk.
Bukan juga karena kita tidak mampu berpikir.
Tapi karena semua opsi yang ada... sama sama menyimpan konsekuensi.
Di satu sisi, ada nilai yang kita pegang. Prinsip yang selama ini kita yakini sebagai kompas hidup. Sesuatu yang membuat kita merasa "utuh" sebagai diri sendiri.
Di sisi lain, ada realita.
Tanggung Jawab.
Kebutuhan orang-orang yang kita sayangi.
------------------------
Seringkali orang lain hanya melihat hasil akhirnya.
Mereka melihat kita mengambil keputusan, lalu Berasumsi semuanya baik-baik saja.
Padahal yang tidak terlihat adalah proses di dalam kepala :
hitungan demi hitungan, pertimbangan demi pertimbangan, dan dialog batin yang tidak pernah benar-benar berhenti.
"Apakah ini pilihan yang benar ?"
"Apakah aku mengkhianati Prinsipku sendiri ?"
"Apakah aku terlalu memaksakan diri ?"
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak selalu punya jawaban yang memuaskan.
----------------------------
Namun hidup memang jarang menawarkan pilihan yang ideal.
Kadang, kita tidak memilih antara benar dan salah.
Kita memilih antara dua hal yang sama-sama tidak sempurna.
Dan di titik itu, yang tersisa bukan lagi mencari pembenaran, melainkan keberanian untuk bertanggung jawab.
Karena ada hal yang sering terlupakan :
Tidak semua keputusan diambil untuk diri sendiri.
Ada keputusan yang diambil untuk karena kita melihat senyum orang lain.
Ada keputusan yang, meskipun terasa berat di dalam, justru membawa kebahagiaan di luar.
Dan anehnya, kebahagiaan itu kadang terasa "sunyi" bagi yang mengambil keputusan.
----------------------------
"Mengapa kita ditempatkan di situasi seperti ini ?"
Mungkin jawabannya bukan untuk menghukum.
Mungkin juta bukan untuk menjatuhkan.
Bisa jadi, ini adalah cara hidup mengajarkan bahwa manusia tidak selalu berjalan di jalur yang lurus dan bersih.
Bahwa menjadi "baik" bukan berarti selalu berada di kondisi ideal.
Dan bahwa memahami keterbatasan diri adalah bagian dari kedewasaan.
------------------------------
Pada akhirnya, kita sampai di satu titik:
Kita tidak lagi mencari keputusan yang paling sempurna.
Kita memilih keputusan yang bisa kita jalani.
Bukan tanpa rasa takut.
Bukan tanpa keraguan.
Tapi dengan penuh kesadaran.
Dan perlahan, kita belajar berdamai.
Kita belajar bahwa:
Tidak semua yang terasa berat adalah kesalahan.
Tidak semua yang tidak ideal adalah kegagalan.
dan Tidak semua keputusan harus membuat kita langsung merasa bahagia.
Kadang, kebahagiaan datang belakangan. Setelah kita menjalani, menerima dan memahami.
-------------------------
Yang terpenting, mungkin bukan apakah keputusan kita sempurna.
Tapi apakah kita tetap menjadi manusia yang sadar, yang peduli, dan bertanggung jawab ata pilihan tersebut.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang memilih jalan tanpa cela.
Melainkan tentang tetap berjalan......
meskipun jalannya tidak selalu seperti yang kita bayangkan.
Sekian,
Sampai Jumpa

Komentar
Posting Komentar